BERANJAK



Makin sempit dunia
kau-aku tak lagi membentang jarak
apa pun mungkin terjadi

saling tolong juga saling todong
saling redam juga saling tikam
saling didik juga saling culik

baiklah mulai dari diri sendiri
kau-aku manusia di bumi ini
tidak hanya di tanah kaki menapak

ada asap mesiu di tiananmen
menyembul dari luka mahasiswa
kebenaran hanya dari penguasa?

sovyet sarat bayonet berderet
ada dingin ada perang ada rahasia
dunia jadi sigar semangka?

dunia biarlah ke arah yang cerah
bangkai busuk bingkai dan pamerkan
tak perlu dibungkus diikat rapat

berbarislah
rapatkanlah
bismillah

1992


Dari antologi puisi “Gelanggang Gema” 1992

PEMANDANGAN



Ini tanah jawa bukan sahara bukan siberia
bukan affandi bukan basuki abdullah
hanya aku yang tengah terperangah
yang bukan apa-apa yang belum apa-apa

pandanglah angsa beserta istri dan putra-putri
terseok tertatih susuri riuhnya jalanan
trotoar sumpek mampet pecah lubang-lubang
demi perut yang melecut lain tidak

tataplah tanpa cemburu mercy yang tak peduli
minggir himpit trotoar dan tampil mencibir
belia berpita warna-warni mendekap panda mini
tengak-tengok jongkok pergi tinggalkan genangan

dari kaca pekat yang menyingkap melayanglah
celana luar negeri gambar snoopy basah
kenai muka orang lalu-lalang tumpah sumpah-serapah
gelandangan bergulingan bercakaran berebutan

angsa melirik lalu tarik istri panggil putra-putri
nikmati basahi tenggorokan genangan tandaskan
tanpa acuhkan bulu putih bersih mengusam menghitam
demi perut yang menuntut lain tidak

ini
   bukan
      hanya
         yang bukan apa-apa yang belum apa-apa

1990

Dari Majalah “Kiprah” 1990

BULAN YANG TERKOYAK



Bulan dicabik daun pisang
lalu berkibaran kiri kanan
menggoyang angin kemalaman

Bulan luka tergolek di mega
di tanah meredup tak lagi sanggup
mempertegas bayang-bayang

Bulan yang retak tanpa gerak
jatuh luruh tanpa keluh
dan daun meradang cari terang

1988



Dari antologi puisi “Riak Bogowonto” 1988

ANGIN



Angin sekongkoli angka
huruf sekutui angin
berserakan berhuruf berangka
di mana pun kapan pun ada angin

kemudian jutaan insan masuk angin
kemudian ratusan insan di atas angin

itu angkara! semua tahu
itu durjana! kalau tak mau tahu

berserakan berhuruf berangka
di mana pun kapan pun ada angin

angin yang direstui para dewa
yang bersinggasana di atas sana
yang menghimbau ayo beli mimpi
yang menghimbau beramal mari
sembari s o b buntut kita nikmati

awas angin itu
awas dirimu itu
awas kita diawasi

1988

Dari antologi puisi “Riak Bogowonto” 1988

AKU TERJAGA



Purnama ataukah fajar

saat genting kaca diseraki binar
saat penantian makin berdebar
saat asa hampir menggelepar

mentari ataukah rembulan

yang disembunyikan pepohonan
yang diselimuti rimbunnya kelam
yang disergap berbagai kenyataan

silau rasa ataukah redupi diri

nikmat simak keheningan ini
nikmat hirup wangi kweni
nikmat pemerhati tak peduli

saat yang nikmat
yang nikmat hanya sesaat
nikmat sesaat hidup waspada
nikmat abadi mati terpuji

1988

Dari antologi puisi “Riak Bogowonto” 1988